Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ahmad Khudzaifah Qs, Mursyid Silsilah ke-43

Foto para Mursyid Naqsyabandiyah Gersempal
Foto para Mursyid Naqsyabandiyah Gersempal

Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ahmad Khudzaifah Qs, atau semasa hidupnya sering di panggil Haji Mahfud, Merupakan salah satu Mursyid Thoriqoh Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah Gersempal Silsilah ke-43. Beliau adalah Ulama’ Besar dari Madura, Pengasuh generasi ke-2 Pondok Pesantren Sumber Papan Larangan Badung Pamekasan. Pondok Pesantren Putri tertua di Kabupaten Pamekasan bahkan menurut beberapa pendapat, merupakan Pondok Pesantren Putri Tertua di Madura. Orang tua beliau Hadrotus Syeikh Banu Rahmat dan Nyai Aisyah atau sering disebut Nyai Pandan merupakan pendiri dari pesantren tersebut.

Salah satu santri Nyai Aisyah pada masa itu ialah Nyai Zubaidah istri dari Kyai As’ad Syamsul Arifin, Kyai kharismatik dari  pondok pesantren Sukorejo Situbondo yang sekarang menjadi salah satu pesantren terbesar di pulau Jawa. Nyai Aisyah Qs. sendiri merupakan Mursyidah Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah angkatan dari Sayyidina Abdul Adhim Qs Bangkalan Pembawa Thoriqoh Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah pertama dari Mekkah ke Pulau Madura. Nyai Aisyah sendiri menurut beberapa pendapat merupakan Mursyidah pertama di Madura, bahkan di Indonesia.

KH. Ahmad Khudzaifah Qs. terkenal dengan kezuhudannya, hidup sederhana bahkan memilih mata pencaharian sebagai petani, Beliau dikaruniai 6 putra/putri di antaranya (1) KH. Hafidz, (2) Sayyidatina Hj. Thobibah Qs, (3) Sayyidina KH. Abdul Wahid Qs, (4) Sayyidina Sya’duddin Qs, (5) KH. Abdul Mughits, (6) Nyai Hj. Khuzinah, Sementara putra dan putri beliau menjadi Mursyid dan Mursyidah, diantaranya Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Abdul Wahid Hudzaifah Qs, menjadi Mursyid silsilah ke-45, kemudian  Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Sya’duddin Hudzaifah Qs, dan Sayyidatina Hj. Thobibah Qs yang ketiganya di angkat oleh Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ali Wafa Muharror Qs, Ambunten Sumenep.

Dari segi Nasab beliau bersambung ke Buju’ Abdul Alam Prajjan Sampang, sementara istri beliau Nyai Rahbiyah bersambung ke Buju’ Istbat Banyuanyar Pamekasan, yang keduanya sudah tersohor merupakan keturunan Sunan Giri dan Sunan Ampel. Pada akhir hidupnya beliau menunjuk Al-Maghfurlah Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ali Wafa Muharror Qs, Ambunten Sumenep sebagai penerus beliau dalam memimpin thoriqoh.

Adapun tentang kisah salah satu karomah beliau, bersumber dari seorang kakek yg sudah berumur 125 tahun, disebut dengan Mbah Noto, beliau kelahiran Sumber Papan, dan sempat mengaji kepada Al-Maghfurlah Al-Arif Billah KH. R. Ahmad Hudzaifah Qs. Meski umurnya sudah 125 tahun namun pendengaran dan penglihatannya masih terhitung normal, daya ingatnya juga sangat tinggi, bahkan ciri ciri wajah KH. Ahmad Khudzaifah dia masih ingat dengan jelas. dan beliau masih bisa berjalan seperti halnya umur 50. sejak kecil Mbah Noto sudah menjadi tukang sapu di Masjid Sumber Papan.

KH. Ahmad Hudzaifah Qs. yang sering di lihat oleh Mbah Noto adalah: setiap KH. Ahmad Hudzaifah naik ke masjid maka sandal beliau selalu berbalik arah tanpa ada yg membalikkan. Jadi, ketika KH. Ahmad Hudzaifah Qs. hendak turun dari masjid sandalnya sudah menghadap ke depan dan siap di pakek tanpa harus membalikkan badan. hal itu sudah menjadi pemandangan yg rutin bagi Mbah Noto.

ASAL USUL NAMA SUMBER PAPAN

Menurut cerita Mbah Noto (Tukang sapu masjid Sumber Papan semenjak masa Al-Arif KH. Ahmad Hudzaifah Qs.) Suatu saat di pulau Madura terjadi kemarau yg panjang, semua mata air sudah mulai surut dan mengecil termasuk di kediaman Al-Arif Billah KH. Ahmad Hudzaifah Qs.

Sampai pada suatu hari KH. Ahmad Hudzaifah Qs. memerintahkan muridnya menggali dan memperluas sumber yg ada di sekitar dhalem beliau, namun setelah penggalian dan perluasan itu terjadi, keluarlah sumber air yg amat besar hingga keluar bermacam jenis ikan laut, setelah melihat kejadian itu maka KH. Ahmad Hudzaifah Qs. memerintahkan mengambil papan, papan tersebut berukuran kurang lebih 2 meter.

“Sumber ini harus di tutup, jika tidak maka pulau madura ini akan menjadi lautan” ungkap KH. Ahmad Hudzaifah Qs, seperti yg di ceritakan Mbah Noto selanjutnya KH. Ahmad Hudzaifah Qs. menutup sumber itu dengan papan tersebut. sejak saat itu di daerah tersebut di beri nama Sumber Papan.

NYAI PANDAN ADALAH NYAI AISYAH QS.

Tentang Nyai Aisyah, Mbah Noto menjelaskan bahwa Nyai Aisyah Qs. akrab dengan sapaan Nyai Pandan. dan sapaan tersebut menjadi julukan dari Nyai Aisyah Qs. Hal itu di karenakan aroma tubuh Nyai Aisyah yg selalu berbau harum semerbak tanpa menggunakan parfum. Bau harum yg berasal dari tubuh Nyai Aisyah adalah bau yg alami. Oleh karena itu beliau lebih terkenal dengan sebutan Nyai Pandan.

Sumber:

  • K. Habibi Mawardi
  • K. Ahmad Ridwanullah Qurdi
  • Di edit seperlunya oleh Admin, mohon masukan apabila ada tambahan/revisi/masukan.

2 thoughts on “Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ahmad Khudzaifah Qs, Mursyid Silsilah ke-43

  1. maaf sebelumnya kalo membuat sejara baliu Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. R. Ahmad Khudzaifah Qs, Mursyid Silsilah ke-43 putranya & putrinya di sebut / di uraikan semua biar teman2 ikhwan & akhwat (sitqon) tahu trmks….. oh iya dan yang di angkat mursyid sama sayyidina ali wafa ambunten putra / putri baliu kh.ahmad khudaifah ada tega (3) bukan dua.
    purtanya & putrinya sayyidina ahmad khudaifah dengan istrinya ny.hj.rahbiyah ada enam (6)
    1-kh.hafid 2-sayyidatina hj.thobibah 3-sayyidina abd wahid 4-sayyidina sya’duddin 5-kh.abd mughits 6-ny.hj.khuzinah, dan yang di angkat mursyid sama sayyidina ali wafa ambunten ada tega (3) ilah 1-sayyidatina thobibah 2-sayyidina abd wahid 3-sayyidina sya’duddin, maaf sebelum di terbitkan / di cetak di cek dulu benar apasalah maaf ini saran cuman hampir ke teguran sekali lagi mohon maaf…….

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*