Mengenang Sosok Al-Maghfurlah KH. Damanhuri Imam Khwajagan Blumbungan

Al-Maghfurlah KH. Damanhuri Thoyyib dilahirkan di Pamekasan pada Tanggal 15/09/1932 dan Wafat pada Kamis (Malam Jum’at) 11/10/2018. Awalnya, Beliau merupakan Ikhwan Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah dari Al-Arif Billah Sayyidina KH. R. Ali Wafa Muharror Qs. Ambunten Sumenep (Mursyid Silsilah ke -44 di Naqsyabandiyah Ahmadiyah Mudzhariyah atau sekarang akrab dimasyarakat dengan sebutan Naqsyabandiyah Gersempal, Baca: Al-Arif Billah Hadrotus Syeikh KH. Ali Wafa Muharror, Mursyid Silsilah ke-44*). Almarhum sejak mudanya menekuni Tarekat dan melanjutkannya ke Sayyidina KH. R. Abdul Wahid Khudzaifah Qs, sepeninggalnya Sayyidina KH. R. Ali Wafa Muharror Qs. Kemudian Al-Marhum diangkat sebagai Imam Khwajagan atau Imam Khususiyah ke-7 oleh Sayyidina KH. R. Ahmad Jakfar Abd. Wahid Qs. Sebagai Imam Khususiyah Tengginah Blumbungan (dimana wilayah ini dikenal sebagai wilayah basis Thoriqoh Naqsyabandiyah untuk Kabupaten Pamekasan) menggantikan KH. Moh. Ikram yang konon dikarenakan kondisinya sudah sepuh. Sementara, Almarhum dikenal sebagai sosok Kyai yang tegas namun Tawaddu’. Kegiatan-kegiatan sehari beliau mengelola lembaga Madrasah Ianatus Sibyan, aktifis tarekat, serta dikenal sebagai Tokoh Masyarakat.

Adapun tentang ketegasan beliau bersyariat dalam berthoriqoh sangat patut dijadikan panutan bagi pengamal/salik terutama Thoriqoh Naqsyabandiyah. Sosok Imam khusyusyiah/Imam khawajakan Naqsyabandiyah Gersempal ini adalah sosok sepuh yang konsisten dalam amaliyahnya sesuai dengan thoriqoh dari para guru-gurunya. Tahun 2015 beliau menjadi Penasehat dikepengurusan PC. SITQON Cabang Pamekasan, walaupun kondisi beliau sudah sepuh dan udzur. Akan tetapi tidak mengurangi semangat beliau untuk tetap memotivasi kepada para pengurus SITQON di Pamekasan untuk terus bergerak menyiarkan Islam berbasis Thoriqoh. Beberapa pandangan beliau tentang syiar Islam melalui thoriqoh diantaranya adalah dengan memperbanyak mengadakan kegiatan-kegiatan Haul Masyayikh di akhir zaman ini dengan jadwal yang disesuaikan oleh pengurus cabang masing-masing serta komunikasi dengan para Imam khusyusyiah setempat, karena beberapa alasan:

  1. Syi’ar Thoriqoh adalah Majelis-majelis Dzikir seperti Haul Masyayikh, sehingga jika tidak memperbanyak kegiatan tersebut, maka sama artinya dengan mempersempit Syi’ar thoriqoh yang memang tujuan dari terbentuknya SITQON (Silaturrahim Ikhwan Akhowat & Simpatisan Thariqat An-Naqsyabandiyah).
  2. Salah satu tujuan tujuan terbentuknya organisasi SITQON ini adalah mengakomodir Jamaah Thoriqoh untuk ikut serta dalam meramaikan syiar-syiar Islam berbasis thoriqoh ditempatnya masing masing sehingga Syiar Thoriqoh lebih nampak dimasyarakat dengan wadah yang lebih umum yaitu Majelis Dzikir SITQON.
  3. Dakwah merupakan salah satu tugas besar seorang Mursyid sebagai pewaris Rasulullah SAW, dan Jama’ah tentunya membantu perjuangan tersebut sebagai sarana Robithoh kita kepada Guru, dengan membantu meramaikan Majelis Dzikir Haul Masyayikh Naqsyabandiyah adalah hakekatnya penegasan mahabbah kita kepada para sholihin utamanya Guru Mursyid.

Sejak tahun 2013 dikarenakan kondisi beliau sudah udzur, Imam Khususiyah untuk wilayah Blumbungan digantikan putranya yakni KH. Abdul Hadi, atas Dawuh dan petunjuk  Al-Mursyid Al-Kamil Sayyidina Ahmad Ja’far Abd. Wahid Khudzaifah Qs.

Semoga semangat dan perjuangan Al-marhum dapat menjadi tauladan kepada para Jama’ah SITQON dan penerusnya, dan semoga beliau dikumpulkan dengan Rosulullah SAW dan para Masyayikh Thoriqoh Naqsyabandiyah, Amin

Sumber: K. Abd. Hamid Roqib, Misbahur Rohadi.

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*