Penjelasan tentang Harara/Jadzab/Wajd yang terjadi pada orang-orang thoriqoh

Syaifullah_jakfar
Tampak KH. Syaifullah Ja’far sedang bersama salah satu gurunya, Syekh Muhammad bin Ismail Zain al-Yamani

Syekh Muhammad Amin Kurdi Irdibili Naqsyabandi Qs, di dalam Kitab Tanwirul Qulub menguraikan:

قال الشيخ امين كردي الاردبلي النقشبندي

وأما الوجد فهو وارد يرد علي القلب من كشف أسرار الذات و أنوارها فيدهش الروح أو يظهر ذلك علي الجوارح فيهتز الرأس و يسطح البدن وهو ثابت بالكتاب و السنة ،قال الله تعالي( ألم يأن للذين أمنوا أن تخشع قلوبهم لذكر الله) و قال تعالي ( إنما المؤمنون الذين إذا ذكر الله و جلت قلوبهم)

Artinya:

Berkata Shaikh Amiin Kurdi Al-Irdibili An-Naqsyabandi

Dan adapun wajad (getaran dari diri orang yang berdzikir seperti menangis / menjerit dan semacam nya dengan tanpa niat sengaja) maka itu sesuatu yang datang (keni’matan) terlintas didalam hati dari terbukanya rahasia – rahasia dzat. Dan cahaya – cahaya nya ( ketuhanan ) maka tercengang lah ruh ( seseorang ) atau akan tampak sesuatu itu didalam anggota badannya maka bergoyang lah kepala dan bergetarlah seluruh anggota badan nya, dan itu jelas diterangkan didalam Al-Qur’an dan Hadist.

Allah SWT berfirman yang artinya: “Belumkah datang waktunya bagi orang-orang yang beriman, untuk tunduk hati mereka mengingat Allah”.
Dan Allah SWT berfirman yang artinya: “Sesungguhnya orang-orang yang beriman (dengan iman yang hakiki) ialah mereka yang bila disebut nama Allah, gemetarlah hati mereka.”

فإن صاحب الخشوع القلبي و الوجل بذكر الله تعالي قد يغيب عقله عن إحترام الناس و إعتبار أهل المجلس فيقوم و يقعد يدور و يتواجد و ربما يسقط علي الأرض علي حسب قوة إستعداده لتحمل الواردات الالهية عليه فهو في طاعة و عبادة من غير شبهة عند كل أحد من الاسلام و الايمان و لا يجوز سوء الظن به (فويل للقاسية قلوبهم من ذكرالله أولئك في ضلال مبين)

Maka sesungguh nya seorang yang khusu’ hati nya dan bergetar hatinya karna menyebut nama Allah SWT terkadang hilang akal nya sampai dia tidak menghormati manusia apalagi orang-rang disekitar majlisnya (tempat dia berdzikir ) maka dia berdiri dan duduk berputar putar dan bergoyang goyang seluruh tubuhnya (seperti kita saksikan di majlis-majlis dzikir) dan terkadang mereka terjatuh di atas tanah (karna hilang akal sehatnya) dengan melihat seberapa kuat dia membawa suatu/ rahasia – rahasia ketuhanan padanya (karna dia yang jadzab/wajad / haroro yang merasakan akan keni’matan itu) maka dia jelas terhitung orang taat (kepada Allah dan Rasullah SAW ) dan beribadah tanpa diragukan lagi menurut semua Ulama’ Islam dan Ahli Iman (kecuali orang-orang yang dengki dan tidak mengerti) maka tidak boleh berprasangka buruk pada mereka (dosa besar). Allah SWT berfirman yang artinya: “Maka kecelakaan yang besarlah bagi mereka yang hatinya keras untuk mengingat Allâh. Mereka itu dalam kesesatan yang nyata”.
و في بعض الأثار :
جذبة من جذبات الرحمن توازي عمل الثقلين

Di sebagian Atsar (Hadist):
Jazdab itu sebagian tarikan dari Ar-Rohman (hatinya di getarkan Allah SWT) yaitu menyamai amalannya seluruh manusia dan jin:

و ذكر في مسند الامام احمد بن حنبل عن علي كرم الله وجهه قال : أتيت النبي صلي الله عليه و سلم أنا و جعفر و زيد فقال النبي صلي الله لزيد : أنت مولاي فحجل، فقال لجعفر : أنت اشبهت خلقي و خلقي فحجل ثم قال لي أنت مني فحجلت :

والحجل هو رفع رجل و مشي علي الاخري وهو من نتائج التواجد
Dan disebutkan di dalam Musnad Imam Ahmad Bin Hambal dari Sayyidina Ali Karromallahu Wajhah, berkata : aku mendatangi Nabi SAW, aku dan Jakfar dan Zaid. Maka berkata Nabi SAW kepada Zaid: kamu tuan ku maka bergoyanglah Zaid, maka bersabda kepada Jakfar : kamu menyerupaiku dan akhlakku maka bergoyanglah Jakfar , maka Nabi SAW bersabda kepada ku : kamu bagian dari ku maka aku pun bergoyang (tanpa sadar bukan di sengaja/niat)

Dan adapun arti lafad Hajal yaitu mengangkat kaki satu nya dan berjalan dengan kaki yang lain (yaitu bergetar badannya) karna buah dari wajd/harara/jadzab.

وقد صح عن بعض الصحابة التواجد،فلا يجوز سوء الظن بأهل التواجد لقوله تعالي (ياأيها الذين أمنوا إجتنبوا كثيرا من الظن إن بعض الظن إثم) فإن سوء الظن بالمسلم حرام قطعا و التأويل واجب في أقواله و افعاله

Dan sungguh Sohih riwayat dari sebagian para sahabat tentang tawajud ( harara /jadzab/ wajd ) mereka., maka tidak boleh buruk prasangka pada Ahli Tawajd (harara/jadzab/wajd) karna Firman Allah SWT: “Wahai orang-orang yang beriman jauhilah dari banyak prasangka buruk, sesungguhnya sebagian prasangka buruk itu dosa) maka jelas buruk prasangka kepada seorang muslim itu dosa secara pasti dan adapun ta’wil (baiik prasangka) pada mereka wajib (hukumnya) di dalam ucapannya ahli wajd (harara/jadzab).
وقد يحصل من المريد في حال الجذبة صراخ و تخبط و صرع و بكاء فأدبه في ذلك الوقت أن يسلم نفسه لوارده يتصرف فيه كيف شاء.ولا يمنع نفسه من الصراخ و البكاء لئلا يتضرر

Dan terkadang dari murid (salik) di dalam hal jadzab (harara/wajd) itu menjerit dan kelakuannya tidak jelas dan membantingkan diri dan menangis, maka adabnya seketika itu dia (murid) harus merelakan (pasrahkan) diri nya akan hal-hal yang datang kepada dirinya dengan melakukan dikala (jadzab) itu apa yang mereka inginkan (yaitu menangis atau menjerit atau bergerak tanpa tujuan atau membantingkan diri seperti keterangan diatas) dan tidak pantas (baik) baginya mencegah diri nya untuk menjerit atau menangis karna supaya tidak berbahaya baginya (sebab mereka dikala harara/jadzab/wajad jika di tahan akan mudorot bagi dirinya sendiri)

للمريد الصادق أن بتواجد لطلب الحقيقة بمنزلة التباكي المأمور به لما روي موقوفا علي أبي بكر و ابي موسي و عبد الله بن عمرو : أبكوا فإن لم تبكوا فتباكوا ، رواه أحمد

Bagi murid (salik) yang tulus itu harus berusaha untuk bertawajud ( berusaha untuk harara / wajad/jadzab ) karena mencari kebenaran nyata (tangisan yang tulus) dengan berusaha pura-pura menangis yang di perintahkan (di dalam agama apa lagi kalo memang tangisan nyata bukan pura-pura) karena di riwayatkan secara mauquf kepada Abi Bakar dan Abi Musa dan Abdullah Bin Amr: “Menangislah kalian jika kalian tidak bisa menangis maka pura-pura lah menangis”. (Hadist riwayat Imam Ahmad).
قال بعض العارفين :
إن العينين لا تبكيان حتي يأتي ملك من الله فيمسح القلب بجناحه فتبكي عينا قلبه فيظهر بذلك في عيني رأسه ،

Berkata sebagian orang-orang Arif;
Sesungguh nya kedua mata tidak akan menangis sampai malaikat itu datang karna diperintah Allah, kemudian Malaikat itu mengusap hati (orang yang benar benar berdzikir) dengan sayap nya,maka menangislah kedua mata hatinya maka tampak pula menangis kedua mata kepalanya,

Mohon maaf jika ada kesalahan dalam penerjemahan murni kesalahan kami, jika benar murni pemberian Allah SWT.

Al-Faqir,

KH.R. Syaifullah Ja’far

(Ketua Bagian Pendidikan & Dakwah Pengurus Pusat SITQON Thariqat An-Naqsyabandiyah Gersempal)

https://www.facebook.com/syaiful.jafar

One Reply to “Penjelasan tentang Harara/Jadzab/Wajd yang terjadi pada orang-orang thoriqoh”

  1. Ya sangat stuju,saya alfakir dari Torikoh Naqsyabandiah Al Furqoniah ,dari Sukabumi Jawa Barat, di bawah asuhan Buya Syekh MuhAmmad Kabier Al Faruqi Bengkulu,

Tinggalkan Balasan ke Sarifudin Sirruhu Batalkan balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*