Lima Keutamaan Ibadah Puasa

KH. R. Syaifullah Ja'far
KH. R. Syaifullah Ja’far

Ibadah Puasa merupakan kewajiban bagi umat islam. Sebagai salah satu dari lima rukun Islam, puasa menurut syariat diartikan menahan diri dari dan minum serta dari segala perbuatan yang membatalkan puasa.

Kewajiban dalam “menahan diri” ini dimulai dari terbit fajar sampai terbenamnya matahari. Dan kegiatan tersebut harus dijalani dengan syarat tertentu untuk meningkatkan ketaqwaan seorang muslim.

Bulan suci Romadhon (puasa) menjadi salah satu bulan dimana Allah menjanjikan kenikamatan dan keberkahan. Bahkan di dalam romadhon Allah juga memberikan sejumlah keutamaan, termasuk keutamaan bagi umat muslim yang menjalankan ibadah tahunan itu. Didalam hadist Qudsi Allah berfirman: “Diberikan kepada umatku lima hal (keutamaan) dibulan romadhon, yang mana keutamaan tersebut tidak diberikan kepada umat sebelumnya”.

Adapun kelima keutamaan yang dijanjikan Allah SWT tersebut adalah, bau mulut orang berpuasa lebih harum baunya dari minyak misik. Kedua, dibulan romadhon Allah memerintahkan para malaikat agar memintakan ampunan bagi orang-orang yang berpuasa.

Ketiga, Allah membelenggu agar tidak menggoda atau menjerumuskan orang yang berpuasa ke neraka. Keempat, Allah memerintakan kepada surga agar surga bersiap-siap untuk menyambut kedatangan orang yang berpuasa. Yang terakhir, Allah memberikan ampunan pada setiap malam bagi umat muslim yang berpuasa.

Dari lima janji Allah tersebut, kita selaku umat muslim patut berbangga, karena umat Nabi Muhammad SAW diberikan kemewahan secara eksklusif jika dibanding umat nabi-nabi yang lain.

Pertanyaannya, mengapa Rosulullah memerintahkan puasa dan menyatakan puasa tiada bandingan dengan ibadah yang lain? Ini menunjukkan, puasa memiliki keutamaan sebagai penyebab orang masuk surga.

Bahkan, dalam hadist Rosulullah menyebutkan alasan keutamaan dibandingkan ibadah lainnya, dengan ungkapan,”Puasa itu tidak ada bandingannya”. Hal ini menunjukkan beberapa keutaman puasa.

Pertama, puasa tiada bandingannya dalam hal pahala, Rosulullah meriwayatkan Hadist Qudsi, “ Setiap amalan anak cucu Adam adalah miliknya kecuali puasa. Puasa adalah milik-Ku (Allah) dan Aku yang langsung membalasnya”.

Bulan romadhon juga disebut bulan kesabaran, dan sabar itu balasannya surga. Jiwa ini dilatih dalam sebulan penuh, sehingga diharapkan selanjutnya kita lebih mampu mengendalikan diri dalam berinteraksi, baik dengan keluarga, masyarakat maupun bernegara.

Seorang beriman dilatih untuk senantiasa bersabar dalam tiga hal:

Pertama, sabar dalam ketaatan. Tentunya dalam rangka taat kepada Allah SWT. Dalam menunaikan Sholat, menjalankan puasa, membayarkan zakat, menunaikan ibadah haji, berbakti kepada orang tua, mencari dan memberi nafkah keluarga, berbuat baik kepada fakir miskin, kepada tetangga dan seterusnya.

Ini semua dibutuhkan kesabaran, pasti tidak mudah menjalankannya. Hanya karena motivasi iman kepada Allah SWT sajalah yang membuat seseorang kuat dan tangguh untuk tetap istqomah.

Kedua, sabar menghindari maksiat. Ditengah kehidupan modern sa’at ini, tentu banyak sekali godaan-godaan untuk berbuat maksiat bagi orang yang beriman. Apakah wujudnya harta yang tidak halal, godaan lawan jenis yang cantik atau ganteng, godaan kekuasaan yang kerap membuat seseorang terlena.

Andai saja, sesorang tidak memiliki kekuatan kesabaran terhadap rangsangan dan godaan tersebut, maka tentu hidupnya akan mudah terposangkan dari jalan yang lurus.

Ketiga, sabar ketika mendapat musibah. Perhatikanlah, bagaimana sikap seseorang, ketika tiba-tiba mendapat musibah, bagaimana reaksi mereka. Ketika seseorang yang sangat dicintai, tiba-tiba meninggal dunia. Ketika rumah indah yang dimiliki hangus terbakar, ketika jabatan yang dirintis puluhan tahun, tiba-tiba harus dilepaskan. Berbagai bentuk penyikapan diungkapkan. Ada yang histeris, ada yang sampai gila, bunuh diri dan sebagainya.

Padahal semua ini hanyalah hiasan dunia. Seorang beriman tentu akan berucap: Inna lillahi wa inna ilaihi rojiun, sesungguhnya milik Allah SWT akan kembali kepada-Nya.

Pada bulan romadhon ini kesabaran itu kita asah, sehingga jiwa taqwa, yaitu mampu mengendalikan diri, terwujud dalam diri kita(*).

*Penulis adalah pengasuh PP. Darul Ulum II Al-Wahidiyah Gersempal Omben Sampang, juga sebagai Pengurus Pusat SITQON bagian Ketua Bidang Pendidikan dan Dakwah.

 

 

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *

*